Mungkin sekitar 1993-an kita masih bisa berlindung di balik alasan ketersediaan perangkat lunak yang minim di Indonesia. Jangankan program Open Source yang gratis, pilihan program komersial yang tersedi sangat terbatas sekali. Free Software Foundation, Linux, FreeBSD, GNU masihlah sangat jarang terdengar dan gaungnya nyaris tak terdengar di Indonesia. Pada saat ini, hampirs setiap majalah komputer dan bisnis telah membahas Linux dan trend Open Source ini (majalah komputer dan bisnis di Indonesia yang masih jarang sekali memasukkannya ke dalam bahasannya, mungkin hanya Elektro, dan Infokomputer yang pernah sekilas membahasnya). Walau begitu gaungnya tetap belum terdengar keras di Indonesia. Terbukanya arus informasi via Internet seharusnya menjadikan kita menoleh kepada pilihan yang ini. Tetapi sepertinya kita kembali menjadi penonton yang ketinggalan jaman lagi seperti yang sudah-sudah. Haruskah kita mengulangi kesalahan yang sama ini? Semua itu berpulang pada kita sebagai pengajar. Akankah kita tetap mengajarkan teknologi informasi kepada para anak didik kita, dengan menggunakan perangkat lunak "bajakan" atau komersial yang mahal, atau memilih menggunakan perangkat lunak Open Source, yang murah atau bahkan gratis. yang tersedia source code, yang memungkinkan untuk dianalisis, dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kita
selama ini kita telah berusaha sekuat tenaga untuk sedapat mungkin mengajarkan teknologi ini kepada anak didik kita, baik dari segi teoritis maupun aplikasinya. Perkembangan teknologi yang cepat ini tanpa terasa telah memojokkan kita untuk mengajarkan produk teknologi informasi ini secara cepat-kilat dan terkadang cenderung potong kompas. Dorongan untuk mengikuti perubahan teknologi ini menjadikan kita cenderung memberikan pengetahuan dengan bersandar pada aplikasi-aplikasi yang populer belaka. Popularitas suatu perangkat lunak yang sering kali dibentuk oleh strategi dan proses marketing yang jitu, sering menjadi dasar pemilihan perangkat lunak pendukung materi pengajaran. Kita kurang melihat pada kesesuaian perangkat lunak terhadap materi pengajaran, juga sering kita mengabaikan dasar teknologi yang melandasinya. Bahkan terkadang kita melupakan tujuan dari pendidikan itu sendiri
Secara sadar atau tidak sadar dan sengaja atau tidak sengaja, demi mengatas-namakan mengejar ketinggalan teknologi, kita telah mengabaikan etika yang seharusnya kita junjung tinggi dalam lingkungan akademis ini. Tanpa sadar kita mengajarkan pengetahuan teknologi informasi ini dengan mengabaikan hak cipta si pembuat perangkat lunak. Sebagian besar perangkat lunak yang kita gunakan adalah "bajakan" (sengaja saya beri tanda kutip, karena secara hukum tidak bisa dikatakan bajakan karena banyak institusi telah membeli satu lisensi perangkat lunak, tapi secara etis adalah bajakan karena banyak mahasiswa yang mengkopinya secara sadar). Tanpa sadar secara perlahan kita memberikan justifikasi keabsahan penggunaan perangkat komersial bajakan. Hal ini disebabkan proses pengkopian tersebut dilakukan terhadap program komersial, bukan ke suatu program yang bersifat Open Source.
Memang kita bisa beralasan dengan menyatakan bahwa situasi pada saat itulah yang mendorong dan memaksa kita melakukan hal itu. Keterbatasan arus informasi menjadikan seakan-akan kita tidak memiliki pilihan lain yang lebih aplikabel. Harga perangkat lunak yang mahal serta lajunya perubahan perangkat lunak dan trend yang ada. Itikad baik kita untuk mengajarkan pada para mahasiswa aplikasi yang terbaru demi
mempersiapkan mereka terjun ke lapangan pekerjaan juga mendorong kita untuk melakukannya. Sekarang adalah saat yang tepat untuk kita renungkan satu per satu. Apakah ada langkah alternatif lainnya yang mencegah kita melakukan pilihan yang sama ? Situasi perekenomian yang sulit dan perkembangan teknologi informasi yang cepat mengharuskan kita memikirkan dengan lebih jernih, seksama, strategis dan taktis, tanpa mengabaikan etika yang ada.
tanpa terasa teknologi informasi (TI) telah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Internet, spreadsheet, wordprocessor, database telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang komputer, teknik, perbankan atau sains, tapi juga telah melebar ke bidang lainnya. Komputer dan teknologi informasi telah sampai pada taraf pervasif, yang telah begitu menjadi satu dalam proses belajar dan mengajar sehari-hari. Dari menulis laporan, perangkat analisis, hingga ke pelaksanaan percobaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar